
Saat saya dan suami memutuskan untuk melahirkan lagi, banyak orang yang bertanya dan sepertinya menyalahkan tindakan kami itu, mengapa? karena alasan mereka si sulung Senja masih terlalu kecil untuk diberi adik lagi, usianya waktu itu menginjak usia setahun enam bulan. Tapi kami punya alasan tersendiri, walaupun sebenarnya kehamilan kedua ini juga hasil ketidaksengajaan. Saya terutama memiliki alasan, bahwa saat Senja masih kecil maka ia akan lebih mudah menerima kehadiran adiknya, karena dia belum begitu mengerti arti bersaing perhatian dari orangtuanya, usianya yang masih kecil lebih mudah mengakrabkannya dengan adiknya, selain itu aksi penolakannya bakalan tidak terlalu ekstrim jika usianya sudah besar, karena ada teman saya yang baru punya anak lagi saat si sulung sudah empat tahun, menuruut dia penolakan si sullung sangat perlu diwaspadai karena dia bisa melakukan apa saja untuk menghalangi pihak lain, dalam hal ini adiknya untuk mendapat perhatian ortunya, adiknya yang masih mungil dan tak berdaya itu kerap mendapat cubitan dan penolakan dari si kakak ini juga yang membuat saya berpikir lebih kecil lebih mudah dikasih pengertiannya.........
Dan berdasarkan penelitian dari BKKBN ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengaturan jarak kelahiran anak dan mengapa harus ada pengaturan jarak kelahiran anak. Berbagai pertimbangan sering tidak memuaskan. Di satu sisi pasangan ingin cepat-cepat memiliki jumlah anak yang diinginkan untuk selanjutnya bisa kembali berkarya dan berprestasi karena merasa tidak terbebani anak-anak yang masih kecil lagi. Dalam istilah Jawa sering disebut sebagai “sisan le repot” yang kurang lebih maksudnya agar orang tua tidak mengalami kerepotan dalam memelihara anak berulang kali dengan jarak waktu yang berbeda. Sebaliknya, orang tua menjalani kerepotan tersebut sekaligus pada saat yang hampir bersamaan. Di sisi lain mereka meragukan kesiapan ekonomi, kualitas pemeliharaan terhadap anak-anaknya, kesehatannya dan seterusnya.
Hasil penelitian yang dilakukan di beberapa negara menunjukkan bahwa para ibu yang bekerja di luar rumah cenderung untuk mengatur jarak kelahiran anak-anak mereka lebih pendek. Tujuannya untuk menyelesaikan jumlah anak yang mereka inginkan secara cepat dan meminimalkan waktu cuti mereka, memadatkan beban ekonomi dan fisik dari membesarkan anak. Begitu pula para wanita di negara Taiwan, seringkali dengan alasan “mumpung” mereka masih tinggal bersama kakek neneknya sehingga ada yang membantu menjaga dan memelihara anak-anak mereka, maka pasangan tersebut berusaha untuk memiliki anak-anak dalam jarak kelahiran yang berdekatan.
Meskipun demikian, Statistik menunjukkan adanya peningkatan secara signifikan akan kelangsungan hidup dan kesehatan anak-anak juga para ibu dengan pengaturan jarak yang panjang. Jarak yang panjang di sini maksudnya 3 – 5 tahun. Penelitian dari Pusat Studi Perinatologi dan Perkembangan Manusia di Amerika Selatan beberapa saat lalu menunjukkan bahwa jarak kelahiran antara 27 sampai 32 bulan memiliki tingkat kelangsungan hidup lebih tinggi dibandingkan jarak pendek 9 – 14 bulan. Interval kelahiran yang panjang lebih menyehatkan bagi para ibu dan anak-anak mereka. Mengapa ? Bukankah dengan pengaturan jarak kelahiran berarti memberdayakan para orang tua untuk mencurahkan waktu lebih banyak untuk setiap anak. Selain itu, orang tua masih memiliki sisa waktu yang cukup untuk melakukan aktivitas lain di samping memelihara dan membesarkan anak. Ditilik dari sisi ekonomi pun lebih menguntungkan karena kebutuhan hidup lebih bisa diatur.
Mengapa jarak kelahiran yang panjang lebih baik ?
Dari sisi kesehatan, beberapa keuntungan yang diperoleh dengan mengatur jarak kelahiran 3 – 5 tahun, antara lain :
1.Ibu memiliki cukup waktu untuk mengembalikan cadangan nutrisi setelah kelahiran dan menyusui.
2.Beberapa penelitian menunjukkan jarak kelahiran yang pendek berhubungan dengan meningkatnya resiko kelahiran premature. Berat badan bayi prematur biasanya kurang sehingga resiko kematian bayi makin tinggi.
3.Ibu dapat menyusui anak dengan cukup karena yang disusui hanya satu anak, bila jarak anak terlalu dekat, maka dikhawatirkan terjadi penyapihan yang terlalu cepat pada anak yang lebih tua sehingga anak kekurangan gizi yang diperlukan dari air susu ibu tersebut.Sementara itu, jarak kelahiran anak yang terlalu panjang juga kurang menguntungkan, seperti kemungkinkan ibu lupa pada pengalaman kehamilan yang lalu sehingga ibu seringkali mengalami masalah kesehatan sebagaimana kehamilan sebelumnya.
Meskipun para pasangan bebas menentukan jarak kelahiran anak sesuai hak-hak reproduksinya, namun demikian diharapkan dalam menentukan jarak kelahiran anak mereka dipastikan telah mendapatkan informasi tentang keuntungan dan kerugian pengaturan jarak kelahiran pendek atau panjang. Maksudnya agar anak-anak yang terlahir merupakan anak-anak yang memang diharapkan kelahirannya dan terjamin kelangsungan kehidupannya.(Datanya dikutip dari BKKBN pusat)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar