Sabtu, 05 Desember 2009

Mengatur Jarak Kelahiran Anak



Saat saya dan suami memutuskan untuk melahirkan lagi, banyak orang yang bertanya dan sepertinya menyalahkan tindakan kami itu, mengapa? karena alasan mereka si sulung Senja masih terlalu kecil untuk diberi adik lagi, usianya waktu itu menginjak usia setahun enam bulan. Tapi kami punya alasan tersendiri, walaupun sebenarnya kehamilan kedua ini juga hasil ketidaksengajaan. Saya terutama memiliki alasan, bahwa saat Senja masih kecil maka ia akan lebih mudah menerima kehadiran adiknya, karena dia belum begitu mengerti arti bersaing perhatian dari orangtuanya, usianya yang masih kecil lebih mudah mengakrabkannya dengan adiknya, selain itu aksi penolakannya bakalan tidak terlalu ekstrim jika usianya sudah besar, karena ada teman saya yang baru punya anak lagi saat si sulung sudah empat tahun, menuruut dia penolakan si sullung sangat perlu diwaspadai karena dia bisa melakukan apa saja untuk menghalangi pihak lain, dalam hal ini adiknya untuk mendapat perhatian ortunya, adiknya yang masih mungil dan tak berdaya itu kerap mendapat cubitan dan penolakan dari si kakak ini juga yang membuat saya berpikir lebih kecil lebih mudah dikasih pengertiannya.........

Dan berdasarkan penelitian dari BKKBN ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengaturan jarak kelahiran anak dan mengapa harus ada pengaturan jarak kelahiran anak. Berbagai pertimbangan sering tidak memuaskan. Di satu sisi pasangan ingin cepat-cepat memiliki jumlah anak yang diinginkan untuk selanjutnya bisa kembali berkarya dan berprestasi karena merasa tidak terbebani anak-anak yang masih kecil lagi. Dalam istilah Jawa sering disebut sebagai “sisan le repot” yang kurang lebih maksudnya agar orang tua tidak mengalami kerepotan dalam memelihara anak berulang kali dengan jarak waktu yang berbeda. Sebaliknya, orang tua menjalani kerepotan tersebut sekaligus pada saat yang hampir bersamaan. Di sisi lain mereka meragukan kesiapan ekonomi, kualitas pemeliharaan terhadap anak-anaknya, kesehatannya dan seterusnya.

Hasil penelitian yang dilakukan di beberapa negara menunjukkan bahwa para ibu yang bekerja di luar rumah cenderung untuk mengatur jarak kelahiran anak-anak mereka lebih pendek. Tujuannya untuk menyelesaikan jumlah anak yang mereka inginkan secara cepat dan meminimalkan waktu cuti mereka, memadatkan beban ekonomi dan fisik dari membesarkan anak. Begitu pula para wanita di negara Taiwan, seringkali dengan alasan “mumpung” mereka masih tinggal bersama kakek neneknya sehingga ada yang membantu menjaga dan memelihara anak-anak mereka, maka pasangan tersebut berusaha untuk memiliki anak-anak dalam jarak kelahiran yang berdekatan.

Meskipun demikian, Statistik menunjukkan adanya peningkatan secara signifikan akan kelangsungan hidup dan kesehatan anak-anak juga para ibu dengan pengaturan jarak yang panjang. Jarak yang panjang di sini maksudnya 3 – 5 tahun. Penelitian dari Pusat Studi Perinatologi dan Perkembangan Manusia di Amerika Selatan beberapa saat lalu menunjukkan bahwa jarak kelahiran antara 27 sampai 32 bulan memiliki tingkat kelangsungan hidup lebih tinggi dibandingkan jarak pendek 9 – 14 bulan. Interval kelahiran yang panjang lebih menyehatkan bagi para ibu dan anak-anak mereka. Mengapa ? Bukankah dengan pengaturan jarak kelahiran berarti memberdayakan para orang tua untuk mencurahkan waktu lebih banyak untuk setiap anak. Selain itu, orang tua masih memiliki sisa waktu yang cukup untuk melakukan aktivitas lain di samping memelihara dan membesarkan anak. Ditilik dari sisi ekonomi pun lebih menguntungkan karena kebutuhan hidup lebih bisa diatur.

Mengapa jarak kelahiran yang panjang lebih baik ?
Dari sisi kesehatan, beberapa keuntungan yang diperoleh dengan mengatur jarak kelahiran 3 – 5 tahun, antara lain :
1.Ibu memiliki cukup waktu untuk mengembalikan cadangan nutrisi setelah kelahiran dan menyusui.
2.Beberapa penelitian menunjukkan jarak kelahiran yang pendek berhubungan dengan meningkatnya resiko kelahiran premature. Berat badan bayi prematur biasanya kurang sehingga resiko kematian bayi makin tinggi.
3.Ibu dapat menyusui anak dengan cukup karena yang disusui hanya satu anak, bila jarak anak terlalu dekat, maka dikhawatirkan terjadi penyapihan yang terlalu cepat pada anak yang lebih tua sehingga anak kekurangan gizi yang diperlukan dari air susu ibu tersebut.Sementara itu, jarak kelahiran anak yang terlalu panjang juga kurang menguntungkan, seperti kemungkinkan ibu lupa pada pengalaman kehamilan yang lalu sehingga ibu seringkali mengalami masalah kesehatan sebagaimana kehamilan sebelumnya.

Meskipun para pasangan bebas menentukan jarak kelahiran anak sesuai hak-hak reproduksinya, namun demikian diharapkan dalam menentukan jarak kelahiran anak mereka dipastikan telah mendapatkan informasi tentang keuntungan dan kerugian pengaturan jarak kelahiran pendek atau panjang. Maksudnya agar anak-anak yang terlahir merupakan anak-anak yang memang diharapkan kelahirannya dan terjamin kelangsungan kehidupannya.(Datanya dikutip dari BKKBN pusat)

Senin, 16 November 2009

Resep Masakan

Tumis Teri Pedas

Resep masakan yang praktis dan murah meriah, ini untuk ibu muda yang tak mau repot masak buat suami tercinta, resep ini sudah dicoba di dapurnya mama senja.


Bahan:
ikan Teri yang sudah dibersihkan 1 ons
5 Bh Bawang merah
2 bh bawang putih
10 bh cabe rawit
gula seckpnya
daun bawang
tomat hijau
minyak goreng
tempe


Cara membuat: goreng ikan teri sampai garing, tumis bawang putih dan bawang serta cabe yang sudah diiris halus, masukan,tempe dan teri, masukan tomat hijau dan daun bawang yang sudah diiris, tambahkan sedikit gula dan penyedap rasa serta garam, lalu angkat,siapp dihidangkan.

Kamis, 29 Januari 2009

Single Woman


Saya punya beberapa teman yang yang hingga kini belum juga menikah, kalau dilihat dari faktor wajah mungkin sebagian dari mereka adalah wanita yang good looking dan punya behaviour yang lumayan bagus. Kalau karir? Sebagian dari mereka juga cukup berhasil di bidang karir, bahkan mungkin bisa dibilang lebih dari saya. Saya ingat beberapa teman kuliah dan SMA yang hingga kini masih ada beberapa yang bisa saya kontak, beberapa dari mereka hingga kini masih jadi single woman.
Sebenarnya, usia kepala tiga sudah membuat mereka risau. Bukan karena apa, tapi karena mereka seringkali didesak oleh orangtua untuk segera menikah, sebagian mereka ada yang tidak begitu merisaukan desakan tersebut dan tetap ''be her self'' tetap fokus sama karirnya, seperti teman saya yang ada di Jakarta yang kini jadi asisten notaris di salah satu law firm. Dia wanita yang enerjik, tak peduli dengan omongan orang yang penting dia kejar karir dulu, saya sempat bertanya padanya sampai kapan mau jadi single woman, dia bilang buat apa dipaksain nikah sementara kita nggak sehati, akhirnya nanti bakal bikin rumah tangga jadi amburadul, mendingan gue fokus karir dulu, ortu ribet nanyain nikah ya biarin aja, masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Dia emang cuek banget, pedenya cukup tinggi.
Tapi ada juga teman saya yang jadi pusing tujuh keliling karena ditanyain kapan merrid sama ortunya, ''Pusing, San. Setiap hari pertanyaannya sama, kapan nikah, kalau emang udah mantap kenapa nggak buru-buru nikah,'' setiap hari kalimat itu aja yang keluar, katanya berkeluh kesah.
Sebenarnya, bukannya akunya nggak mau nikah, siapa sih yang nggak mau nikah punya anak dan menjalani kehidupan normaly orang, tapi yang mau kuajak nikah itu semuanya pada kabur. Kamu tau sendiri kami kadang sudah punya planning begini begitu tapi begitu mau jalan ada aja masalah yang timbul,'' katanya.
Kalau sudah begitu biasanya saya saranin dia buat sabar dan tetap keep going dan menyarankan dia untuk nggak berhenti berdoa. Tapi kadang saya juga kehilangan kata-kata untuk ngasih dia semangat karena permasalahannya ya cuma satu itu....:(
Kalau sudah begitu kadang kami cuma bisa tertawa (menertawakan hidup yang kadang tidak bersahabat...)
Jika melihat hal ini saya sadar ternyata saya adalah orang yang cukup beruntung, di usia kepala tiga yang katanya cukup matang dalam karir dan relationship. saya sudah menuntaskan masa lajang saya dan mengakhiri ke singelan saya. Dikaruniai suami yang penyayang dan baik hati, dan seorang puteri kecil yang imut dan pintar, yang selalu menyambut kepulangan kami dengan tawa dan senyum cerianya. Jika melihat teman-teman saya, mungkin sekarang merasa jadi orang yang paling beruntung di dunia:)

Pada prinsipnya saya selalu bilang sama teman-teman saya, bahwa jika kita ingin mencari orang yang sempurna maka sepanjang hidup mungkin kita akan sulit menemukannya, mengapa tidak mencoba mencari orang yang biasa tapi bisa menjadikan hidup kita sempurna, kita bisa sempurna karena masing-masing kita tidak sempurna karena itu kita butuh orang lain yang melengkapinya sehingga kita menjadi orang yang sempurna...
Dan sebenarnya juga menjadi orang yang sempurna itu pasti sangat membosankan karena tidak ada tantangan dan tidak ada hal yang harus kita kerjakan untuk memperbaiki ketidaksempurnaan kita, dengan jadi tidak sempurna kita akan terus berusaha untuk menjadi sempurna yang membuat kita terus belajar dan selalu bersyukur.......
Saya bersyukur punya suami yang mencintai dan menyayangi saya sesuai dengan kemampuannya untuk mencintai saya, dan memiliki anak yang kini berusaha menjadi sempurna untuk belajar menjadi a human being.......I luv U my lovely husband and little star Kayla Senja Maharani.......(saya mungkin terlalu naif dan narsis ya, tapi kadang itu perlu untuk bisa menjadi sempurna:P)

Selasa, 27 Januari 2009

Senja dan Pooh





Beberapa bulan lalu, kami ajak Senja ke toko buku. Di sana Senja sangat suka, melihat buku-buku matanya lasung berbinar dan naluri melasaknya langsung timbul, alhasil saya pun jadi kerepotan menenangkannya. Papanya bilang biarin aja senja melasak, saya yang risau takut Senja merobek-robek buku seperti kebiasaanya di rumah.
Ternyata dugaan saya salah, Senja tidak mau merobek buku tapi dia suka melihat-lihat bannyak buku, akhirnya saya bawa senja ke bagian majalah anak-anak. Tiba-tiba ada majalah Winne The Pooh, begitu dikasih lihat ke Senja nggak mau dilepas lagi, akhirnya pulang dari Gramedia, Senja bawa majalah The Poohnya.
Sampai di rumah langsung suka,majalahnya langsung dibuka-buka sambil mulut mungilnya berkicau riang. saya pun mengenalkannya dengan Pooh dan teman-temannya, yang diingatnya langsung ya si teh pooh itu, jadi kalau kita bilang pooh, dengan sigap majalahnya diambil dan dia menunjukan si beruang gendut yang hobi makan madu itu, kadang kalau mau tidur pun si the pooh dibawa, sampai majalahnya robek-robek gara-gara sering dibawa main....(nanti kita beli lagi majalahnya ya ''nJa'' :)

Jumat, 23 Januari 2009

Menuntaskan Hasrat Masakan Jepang


Beberapa minggu lalu, papa senja kepengen makan masakan jepang, demi menuntaskan hasratt makanan jepang itu kami beli buku resepnya, alhasil begitu melihat resep dan bahannya ternyata lumayan susah mencarinya.
Akhirnya beberapa hari kami terpaksa hunting bahan-bahannya di beberapa mal, sebagian ada yang bisa dibeli sebagian lagi tidak karena harganya lumayan juga untuk sekali masak. Tapi demi rasa penasaran itu, akhirnya beberapa resep yang sedikit simpel bisa kami coba, walaupun dengan beberapa modifikasi sedikit.
Resep yang kami coba akhirnya jadi Chicken Katsu, beef teriyaki dan sup asal negeri matahari itu, sementara untuk masakan lain masih perlu berburu bahan dulu, tapi yang penting sudah ada yang dicoba dan rasanya tekak ini sudah bisa dipuaskan, walaupun masih perlu perbaikan di sana sini.

Anniversary dan Sate



Senin, (19/1) ini usia pernikahan kami memasuki angka dua tahun. Tak terasa, waktu berjalan cepat. Saya dan suami saya tidak merayakannya, kami cuma saling mengingatkan. Tak ada ucapan ataupun kado....tapi suami saya sempat bilang ''Mau kemana kita''.
Kami tak punya acara perayaan, yang saya ingat sehabis meliput (kebetulan saya mendapat tugas menulis Minggu ini) saya dan Papa senja,pulang ke rumah dan kebetulan di depan rumah ada tukang sate yang lewat, akhirnya kami cuma beli sate saja untuk merayakan anniversary yang kedua ini. Itu masih lumayan dibanding tahun kemarin, kami malah lupa sama sekali, ingatnya sudah lewat :(
setelah makan sate kami ngajak senja jalan-jalan ke time zone main, senja paling suka main di sana dan melihat senja tertawa sambil joged-joged saya dan suami bersyukur bahwa Allah masih memberi kami kesempatan dan mensyukuri nikmatnya menjadi orangtua dan memiliki anak seperti senja....:)

Rabu, 21 Januari 2009

Bagaimana Menjadi Orangtua



Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi "to exel to be the best". Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan, orangtua menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak lagi lainnya...maka lahirlah anak-anak super---"SUPERKIDS' ". Cost merawat anak superkids ini sangat mahal.
Era Superkids berorientasi kepada "Competent Child". Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya "earlier is better". Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik.
Neil Posmant seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah...ketika anak-anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan!


Kondisi ketidakpatutan dalam memperlakukan anak ini telah melahirkan berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan -"miseducation" terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya.> Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:

Gourmet Parents-- (ORTU B0RJU)
Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat-baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka "superkids" merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua.
Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknva baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah dimana banyak kelompok orangtua "gourmet " atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.

College Degree Parents (ORTU INTELEK)
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam berbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah dinding, dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka "Superkids ", Apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas.> Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah

Gold Medal Parents (ORTU SELEBRITIS)
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia . Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi "seorang Bintang Sejati ". Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi "Sang Juara", mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.>> Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang . Puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta . Anak-anak mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara mata kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar. Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan keluar sebagai pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas.>> Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK rnengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus "bintang cilik" Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!>> Pada tanggal 26 Mei lalu kita sasikan di TV bagaimana bintang cilik "Joshua" yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya. Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara. Kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang "superkid "--seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film,...

Do-it Yourself Parents
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan professional di bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah., di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya "Superkids"- -earlier is better". Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.>>

Outward Bound Parents (ORTU PARANOID)
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka Iebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat-tempat tawuran yang berbahaya.>> Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep "Superkids " Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan anak-anaknya "Karate, Yudo, pencak Silat" sejak dini.
Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi "steril" dengan lingkungannya.

Prodigy Parents (ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Merceka cukup berada, namun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.>> 'Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-¬anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang "Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca" karangan Glenn Doman, atau "Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika " karangan Siegfried, "Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang " karangan Therese Engelmann, dan "Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 6 Hari " karangan Sidney Ledson

Encounter Group Parents(ORTU NGERUMPI)
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkimpoiannya. Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-¬anak dengan berbagai perilaku "gang ngrumpi" yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai "Superkids" juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak-anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan. Namun banyak dari anak-anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.>>

Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)>
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan. Kelompok ini tidak berpeluang menjadi oraugtua yang melakukan "miseducation " dalam merawat dan mengasuh anak-anaknva. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua.>> Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang menyebabkan. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mercka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya.>> Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan didirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik !

KAMU HARUS TAHU BAHWA TIADA SATU PUN YANG LEBIH TINGGI, ATAU LEBIH KUAT, ATAU LEBIH BAIK, ATAU PUN LEBIH BERHARGA DALAM KEHIDUPAN NANTI DARIPADA KENANGAN INDAH ¬TERUTAMA KENANGAN MANIS DI MASA KANAK-KANAK. KAMU MENDENGAR BANYAK HAL TENTANG PENDIDIKAN, NAMUN BEBERAPA HAL YANG INDAH, KENANGAN BERHARGA YANG TERSIMPAN SEJAK KECIL ADALAH MUNGKIN ITU PENDIDIKAN YANG TERBAIK. APABILA SESEORANG MENYIMPAN BANYAK KENANGAN INDAH DI MASA KECILNYA, MAKA KELAK SELURUH KEHIDUPANNYA AKAN TERSELAMATKAN. BAHKAN APABILA HANYA ADA SATU SAJA KENANGAN INDAH YANG TERSIMPAN DALAM HATI KITA, MAKA ITULAH KENANGAN YANG AKAN MEMBERIKAN SATU HARI UNTUK KESELAMATAN KITA"-DESTOYEVSKY' S BROTHERS KARAM0Z0V


Melihat artikel di atas, saya sempat berpikir, jadi orangtua yang manakah saya? Setiap orangtua pastinya punya harapan-harapan pada anaknya. Ingin anaknya jadi kebanggaannya, ingin anaknya selalu jadi bintang yang bersinar. Tapi kembali ke artikel itu, apakah saya bisa jadi orangtua yang ideal bagi anak-anak saya? apakah mereka akan mau menjadikan saya sebagai sahabat mereka tempat mereka berkeluh kesah dan mereka dapat nyaman ngobrol dengan saya sebagai sahabatnya?
Saya hanya berharap bisa memberikan yang terbaik bagi mereka, saya ingin mereka berhasil tapi saya juga tidak ingin memaksa mereka mau jadi apa, saya ingin mereka berkembang dan tumbuh seperti adanya mereka. Yang pasti, mereka akan tetap jadi bintang di hati saya dan selalu jadi pelita jalan saya....